“Hujan sudah tak setia, ia muncul saat aku tiada dan juga sembunyi saat aku begitu kentara..”, keluh sang awan pada angin..
“Hujan tak mungkin ada bila engkau tiada, kawan..karena kalian adalah pasangan jiwa..
bila hujan tiada saat engkau begitu kentara, mungkin hujan hanya menunggu saat yang tepat untuk ada...”, semilir sang angin menghibur awan
“Tapi, pasangan jiwaku itu sungguh telah tega berselingkuh, Ia memilih bercumbu dengan mentari..Ia tiba-tiba saja turun saat mentari begitu gagah membagi sinarnya, Ia turun tanpa disertai aku..”, isak sang awan…
“Kawan, hujan mungkin sedang tidak setia padamu, tapi percayalah engkau selalu ada di nadi sang hujan, seperti hujan ada didarahmu, karena kasihmu pada hujan tak bersyarat dan sederhana seperti isyarat yang engkau sampaikan pada hujan yang membuatnya tiada...”, hembus sang angin menyejukkan
(Percakapan kecil dengan seorang kawan)
“Hujan tak mungkin ada bila engkau tiada, kawan..karena kalian adalah pasangan jiwa..
bila hujan tiada saat engkau begitu kentara, mungkin hujan hanya menunggu saat yang tepat untuk ada...”, semilir sang angin menghibur awan
“Tapi, pasangan jiwaku itu sungguh telah tega berselingkuh, Ia memilih bercumbu dengan mentari..Ia tiba-tiba saja turun saat mentari begitu gagah membagi sinarnya, Ia turun tanpa disertai aku..”, isak sang awan…
“Kawan, hujan mungkin sedang tidak setia padamu, tapi percayalah engkau selalu ada di nadi sang hujan, seperti hujan ada didarahmu, karena kasihmu pada hujan tak bersyarat dan sederhana seperti isyarat yang engkau sampaikan pada hujan yang membuatnya tiada...”, hembus sang angin menyejukkan
(Percakapan kecil dengan seorang kawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komenin ya ? ya..? ya..?